Translate

Wednesday, May 8, 2013

Lets Get In Depth About Hypnotic Storytelling!

Apa kabar, bloggers?

Kali ini, literaturmasadepan.blogspot.com akan mempersembahkan wawancara eksklusif bersama seorang pakar storytelling, yaitu kak Kartikanita Widyasari, S.Psi atau yang lebih dikenal dengan nama Kak Nit Nit. Diwawancarai di Food Court Royal Plaza lt. 3, Jl. Ahmad Yani, Surabaya-Jawa Timur pada 04 Mei 2013, dengan sangat bergairah Kak Nit Nit menjawab berbagai pertanyaan dari penulis seputar teknik Hypnotic Storytelling yang merupakan hasil kreasi Kak Nit Nit setelah sekian lama berkecimpung dalam dunia dongeng. Yuk, kita simak wawancara lengkapnya berikut ini!

Narasumber                 : Kak Nit Nit (Kartikanita Widyasari, S.Psi)
                                     Hypnotic Storyteller-Praktisi Pendidikan dan Hipnoterapi Anak

Kak Nit Nit sedang Mendongeng
(Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi)

1.) Halo Kak Nit Nit…Perkenalkan nama saya Khoiruunisa R.F, saat ini sedang belajar di bidang studi Desain Komunikasi Visual ITS. Boleh minta waktunya untuk wawancara sebentar?
Oh ayo, silakan…Kalau saya Kartikanita Widyasari, tapi julukan saya Kak Nit Nit.

2.) Oke…Saya langsung mulai saja ya. Menurut Kak Nit Nit, definisi storytelling itu apa sih?
Menurut saya, storytelling itu sebuah teknik berkomunikasi, di mana kita memberikan sebuah info apapun pada anak dengan teknik-teknik mendongeng. Storytelling itu kan kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kan mendongeng, nah storytelling itu teknik berkomunikasi dengan menggunakan bahasa dongeng.

3.) Wah, bahasa dongeng itu bahasa yang seperti apa?
Bahasa dongeng itu begini : dongeng menurut Kak Nit Nit itu adalah sebuah cerita, baik yang nyata atau rekaan yang disampaikan secara ekspresif sehingga menimbulkan imajinasi. Bahasa-bahasa dongeng itu lebih ada permainan suara dan mimik muka, beda sewaktu kita berbicara atau ngobrol biasa. Kalau aku bilang sih, kayak gitu.

4.) Saya tadi sempat menyaksikan bagaimana Kak Nit Nit mendongeng, itu apa pernah ada komentar dari audiens atau orang lain soal gaya kakak?
Mungkin ada juga yang kalau melihat saya menganggap demikian, tapi justru dari sana akan menarik perhatian. Dari yang tadinya tidak tertarik menyimak jadi lebih memperhatikan. Mereka jadi bertanya-tanya, ngapain ya itu? Dulu bahkan pernah ada teman yang bilang kalau saya ini kayak orang gila. Justru di mana saat kita mendongeng itu dibikin semenarik mungkin. Dengan menarik, ada attention dari pendengarnya dan informasi juga jadi cepat masuk. Berbeda kan waktu kita bicara biasa, di mana kita dengar tapi belum tentu masuk semua informasinya.

5. ) Terus apa yang dimaksud dengan “Hypnotic Storytelling”? Tolong ceritakan asal - usul metode storytelling ini!
Sejarahnya Hypnotic Storytelling ini saya suka mendongeng dan mau berkembang untuk jadi lebih baik lagi daripada sebelumnya. Nah kebetulan saya sendiri juga saya belajar tentang hipnotis, setelah lama belajar kemudian  tercetus ide bahwa ilmu ini harus dimasukkan dalam dongeng saya. Akhirnya saya memilih nama Hypnotic Storytelling, yaitu dongeng yang menghipnotis.

6.) Mengapa Kak Nit Nit lebih memilih metode tersebut dibandingkan dengan metode penceritaan yang lainnya?
Metode Hypnotic Storytelling itu sebenarnya brand-nya Kak Nit Nit. Jadi menghipnotis melalui dongeng atau dongeng yang menghipnotis. Bukan hipnotis kayak yang di TV-TV itu lho, tapi bagaimana kita pada saat mendongeng, isi dari dongeng yang disampaikan itu bisa sesuai dengan gambaran di alam bawah sadar. Seperti filosofi gunung es, kelihatan kecil di permukaan tapi bagian bawah atau dalamnya lebih besar. Nah itu diibaratkan cara berpikir manusia, di mana bagian  atas gunung es itu adalah pikiran sadar sementara bagian bawah adalah pikiran alam bawah sadar dan manusia sebetulnya lebih banyak dikendalikan pikiran bawah sadarnya. Pikiran sadar itu meliputi logika, sedangkan bawah sadar meliputi keyakinan yang lebih banyak mengendalikan hidup manusia.

Misalnya, kalau dikasih minum apakah langsung diminum atau tidak? Walaupun haus, kalau nggak yakin pasti ngecek dulu kan, apa minumannya aman?Atau bahan-bahannya apa aja yah? Begitu. Nah, Hypnotic Storytelling itu bercerita dengan menggunakan kaidah-kaidah dan standar yang sesuai dengan pikiran bawah sadar, bagaimana kita mendongeng untuk menyampaikan pesan itu semuanya berhubungan dengan keyakinan diiringi ekspresi, ada bacaan-bacaan yang harus dengan gaya naratif, dll dengan demikian bisa lebih mudah untuk diterima audiens.

Menurut saya cara ini jauh lebih efektif. Maka dari itu saya memberi nama metodenya Hypnotic Storytelling, karena masing-masing cerita menyesuaikan dengan audiensnya supaya mereka mau mendengarkan.

7.) Tingkat pemikiran bawah sadar tiap orang itu kan berbeda-beda. Cara mengetahui dan menyesuaikan dengan target audiensnya itu bagaimana kalau di Hypnotic Storytelling?

Kak Nit Nit sedang Menjawab Pertanyaan Audiens dalam Seminar
 (Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi)

Kalau ada audiens yang nanya cara bercerita misalnya, saya akan menanyakan usia anaknya berapa? Itu supaya tahu, karena nggak mungkin dong ngomong dengan anak yang di bawah 1 tahun sama dengan anak umur 5 tahun. Tapi ada juga di mana berdasarkan jarak usia mereka bisa hampir sama seperti untuk anak usia TK dengan SD kelas 3 ke bawah.  Kalau untuk konsumsi umum (seperti dalam talkshow-red) ya disamakan, tapi kalau orang tua bertanya tentang cerita yang sesuai untuk anaknya saya harus bertanya untuk anak usia berapa supaya bisa menyesuaikan cerita kita dengan cara berpikir mereka.

Misalnya topik kejujuran, seorang bapak ingin mengajarkan pada anak untuk berbicara apa adanya. Nah untuk anak - anak mungkin bisa jadi ribet dan nggak pas, jadi bilang langsung saja bahwa anak kalau bohong bisa nggak punya teman. Udah gitu aja.

8.) Apakah orang lain bisa mempraktekkan metode storytelling ini atau hanya untuk Kak Nit Nit saja?
Orang lain juga bisa menggunakan metode ini. Kalau untuk praktek belajar saya sebenarnya menyediakan  kursus pelatihannya, jadi kalau ada yang mau belajar ya monggo silakan. Tapi kalau bicara tentang gaya, tentu saja Kak Nit Nit punya ciri khas sendiri.

9.) Oh, jadi ada kursus/pelatihannya juga ya?
Ada, tapi untuk sementara ini kami berhenti dulu. Terakhir kali itu bulan Januari 2013 kemarin masih ada. Karena saya agak kesulitan mengatur jadwal, dan harus terjun sendiri untuk melatih. Jadi yang ngajar langsung dari saya. Tujuannya biar orang lain langsung tahu, di mana saya di situ selain belajar tentang teknik-tekniknya juga berbagi pengalaman.

Saya yang belum sempat datang itu ke Kalimantan, NTT, dan Papua. Sementara untuk daerah lainnya saya sudah pernah kunjungi untuk mendongeng ke audiens usia balita sampai yang lebih tua, dari anak biasa sampai luar biasa. Untuk masing-masing audiens itu ada ciri-cirinya sendiri, tapi dengan mengambil dasar Hypnotic Storytelling itu bisa sesuai untuk semuanya.

10.) Jadi untuk materi teknik Hypnotic Storytelling itu khusus orang tua, sementara anak-anak hanya bisa jadi penikmat saja?
Bisa juga disampaikan untuk anak-anak, agar mereka bisa mendongeng juga untuk orang yang lebih tua. Karena apa yang saya sampaikan itu teknik dasarnya, pembelajarannya tinggal disesuaikan saja. Kalau orang dewasa kosa katanya berbeda, kalau anak-anak untuk kelas berapa dulu. Materinya saya buat sendiri, otomatis karena saya yang menciptakan metodenya.

11.) Apa saja yang menjadi sumber inspirasi untuk melakukan metode storytelling ini, yaitu yang biasanya disampaikan kepada audiens, apakah ceritanya berdasarkan literatur tertentu (fairy tales, cerita rakyat,dll) atau cerita kreasi sendiri?
Saya sih tergantung ya, sesuai dengan permintaan. Ada yang minta cerita rakyat atau budaya, ya saya cari-cari children book  yang sesuai permintaan. Kadang kalau nggak ada bukunya, ya saya nggak cerita dengan buku, apalagi kalau buku yang saya temukan terdapat kata-kata yang kurang cocok untuk audiensnya. Jadi saya bikin sendiri, misalnya waktu akan bercerita tentang “Barney The Dinosaur”. Itu kan saya tidak menemukan bukunya, jadi saya membuat sendiri cerita bergambar yang berkaitan dengan judul tersebut. Isi ceritanya seperti apa?Itu biasanya saya ngambil dari kejadian sehari-hari.

Apa sih yang terjadi dalam masa kanak-kanak itu? Misalnya ada di mana anak itu suka pilih-pilih teman, kalau bermain mainannya berebut atau tidak dikembalikan ke tempatnya. Nah dongeng seperti itu yang saya berikan, untuk memotivasi anak agar lebih sayang teman, rajin belajar, cari yang simpel-simpel aja.

Jadi tergantung kebutuhannya. Misal kalau sedang bekerjasama dengan suatu penerbit tertentu, saya tentu akan memakai buku-buku cerita anak bergambar terbitan penerbit tersebut. Untuk seminar Surabaya Memory, buku cerita yang saya pakai bawa sendiri karena dari mereka mengharuskan pakai buku cerita. Jadi pemakaiannya memang ditujukan agar anak tergugah minatnya untuk gemar membaca. Mereka minta saya bawakan cerita rakyat (“Timun Mas”-red), jadi saya cari buku cerita rakyat yang sesuai.

12.) Saya perhatikan saat bercerita, ada peralatan-peralatan yang dipakai saat tampil. Kira-kira alat bantu yang diperlukan untuk Hypnotic Storytelling itu apa saja?

Kak Nit Nit sedang Bercerita dengan Menggunakan Buku Cerita Bergambar
(Sumber Gambar : Dokumentasi pribadi)

Standar alat bantu itu bagi saya adalah buku dongeng atau cerita rakyat, terus alat musik yang namanya Jedor (alat musik asal Bali bersuara gemuruh-red), dan boneka monyet namanya Momo. Itu semua yang selalu saya bawa saat tampil.  

Biasanya saya pakai salah satu waktu tampil, walau kadang saya bawa buku tapi tetap bawa boneka juga. Kenapa begitu? Karena boneka membantu untuk menarik perhatian, saat saya keluarkan semua perhatian audiens tertuju pada boneka tersebut. Untuk alat musik ini saya beli sebelumnya tdak ada niat untuk dijadikan alat perform, hanya iseng beli..tapi ternyata bisa juga dimanfaatkan sebagai alat bantu.

13.) Tentang alat bantu lagi nih Kak Nit Nit. Saya pernah melihat orang bercerita dengan menggunakan kertas-kertas yang hanya menampilkan gambar saja tanpa ada teks, berbeda dengan buku cerita bergambar. Apakah cara seperti itu juga bisa digunakan dalam Hypnotic Storytelling?
Cara seperti itu juga tidak masalah dan diperbolehkan. Saya pernah juga pakai cara bercerita seperti itu waku di Diponegoro, waktu itu topiknya tentang budaya menanam. Kami berniat mengajak anak-anak untuk membudayakan menanam beragam tanaman, tetapi saya mencari buku cerita yang memuat hal-hal tersebut tidak ada atau ada pun tidak sesuai.

Akhirnya saya mencari gambar-gambar saja, saya satukan menjadi seperti buku yang hanya memuat gambar-gambar saja tanpa ada satupun kata-kata- hanya verbal saja.  Jadilah alat bantu buatan sendiri biar anak-anak tahu “Ini lho, gambar tanamannya,” semacam itu. Bagi saya sama saja, gambar kan membantu penceritaan, baik ada maupun tidak ada teks bagi saya tetap saja bisa menjadi sebuah dongeng.

Memakai cara itu atau dengan meggunakan buku-buku informasi seperti buku pengetahuan untuk anak juga bisa. Selama kita sudah menguasai tekniknya, apapun bisa saja dipakai sebagai alat bantu.

14.) Berarti alat bantu seperti itu berperan penting juga ya, dalam mendongeng?
Namanya alat bantu, fungsiyang utamanya sebagai penarik perhatian. Bicara tentang anak-anak, mereka kan rasa ingin tahunya masih sangat tinggi. Misalnya alat musik dibunyikan, mereka ngumpul semua. Keberadaan alat bantu jauh lebih memudahkan pencerita untuk memusatkan perhatian audiens.

Tapi apakah harus dengan cara ini dan selalu pakai alat bantu? Nggak juga. Masih banyak cara, hanya kebetulan Kak Nit Nit alat bantu standarnya begini. Ada juga di mana sewaktu bercerita ada protokolnya dulu, misal harus menari-nari atau nyanyi dulu…Selama hal itu bisa menarik perhatian dan fokus ke topik. Bagi saya yang penting adalah cara kita menyampaikan ceritanya. Ekspresif dan imajinatif, itu yang penting dan hal-hal tersebut  bisa dibantu pakai alat-alat itu tadi. Meskipun tidak pakai alat bantu juga tidak masalah selama kita menguasai dasarnya dan bisa berekspresi hingga pesannya sampai ke audiens.

15.) Apakah ada kendala tertentu saat Kak Nit Nit melakukan metode ini?
Namanya anak-anak ya, itu ada yang jalan-jalan, lari-lari, tolah-toleh ke sana kemari, bagi saya tidak masalah. Apakah anak harus duduk rapi, tenang, anteng gitu kalau sedang mendengarkan informasi atau cerita? Bagi saya tidak harus begitu, karena anak-anak punya tingkat kenyamanan sendiri. Asalkan mereka nggak ngeganggu temannya nggak masalah, kalau mengganggu baru saya yang akan ambil tindakan. Selama mereka bisa mendengarkan suara saya, itu pesan juga sudah bisa masuk.

Seorang Anak Terlihat Melintas Melewati Kak Nit Nit yang sedang Becerita
(Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi)


16.) Kira-kira sudah berapa lama Kak Nit-Nit menekuni pekerjaan ini?
Secara profesional sih 4 tahun, dalam artian aku sudah mulai mendongeng di luar lingkup kecil dan diundang ke mana-mana.  Tapi kalau mulai mendongengnya sendiri secara amatir, sudah mulai SMU atau malah ketertarikan dari kecil sudah ada. Kebetulan saya  tumbuh di lingkungan yang suka mendongeng, dari kecil saya sudah terbiasa mendengarkan dongeng dari nenek yang jago dongeng. Favorit saya adalah “Sewidak Loro” (“Putri Berambut 62 Helai”-red) sampai-sampai dapat julukan sama seperti judul cerita itu oleh orang-orang.

Saya dulu pernah jadi guru playgroup lalu TK kelas B1 dan Kepala Sekolah. Tapi karena lebih memilih untuk melatih banyak orang. Karena kesulitan atur jadwal, akhirnya saya harus melepas jabatan saya sebagai guru dan lebih memilih pekerjaan ini. Soalny kalau banyak ditinggal kan nggak enak juga.

Nah dari bidang-bidang itu saya juga jadi interest dengan anak-anak, dan akhirnya saya gabungkan dengan ketertarikan pada dongeng itu tadi. Saya ingin menjadikan ketertarikan tersebut sebagai sesuatu yang bukan hanya hobi, tetapi bisa sekaligus berguna untuk mengedukasi anak-anak.

17.) Saat ini, apakah  Kak Nit Nit masih mengajar praktek Hypnotic Storytelling atau hanya menerima job-job lepas?
Saat ini saya hanya terima job. Jadi ada kerjasama, rekaman acara TV…Kerjasama dengan beberapa penerbit besar, juga ada banyak pihak lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Istilahnya saya ini bekerja freelance, dipanggil ke sana kemari untuk berbagai kepentingan yang berhubungan dengan dongeng.

18.) Sekarang kan semakin banyak buku-buku cerita bergambar anak dijual bebas. Menurut Kak Nit Nit, apakah sebaiknya anak-anak dibiarkan baca sendiri sejak dini atau orang tua mendampingi bacaan anak-anaknya hingga sudah cukup dewasa hingga bisa melakukan storytelling sendiri?
Untuk masa-masa awal, seharusnya dari orang tuanya dulu yang bercerita sebagai contoh atau pengenalan pada anak-anaknya. Tujuannya yang pertama adalah menyampaikan informasi tentang storytelling, yang kedua untuk mengajarkan anak agar minat baca. Nah pada suatu hari bila anak sudah bisa membaca, misalnya usia TK, bisa gantian. Orang tua giliran membaca hari ini, besoknya anak yang membaca dan menjelaskan isinya pada orang tua..Jadi bisa dikombinasikan dan mempererat hubungan anak dan orang tua.

Sebaiknya tidak langsung diminta baca sendiri, karena bisa jadi buku yang dimiliki banyak tapi pada akhirnya cuma disimpan tanpa ada kemauan baca. Zaman sekarang banyak yang seperti itu, sehingga alhasil si anak kurang paham akan keindahan buku tersebut, atau manfaatnya buku itu apa. Mestinya ada komunikasi, di mana orang tua sekalipun nanti membiarkan anaknya baca sendiri perlu menanyakan apa isi dari bacaan yang dia baca. Saat anak lebih dewasa, biarkan dia menikmati bacaannya sendiri. Tapi tetap sesuai tingkat kedewasaannya dan harus dikontrol dong, mereka bacanya buku atau bacaan apa…

Contohnya anak tetangga saya yang sering dibelikan buku cerita, biasanya ditinggal sang ibu beraktivitas yang lain dan si anak dibiarkan baca-baca sendiri. Padahal dia belum bisa baca, jadi hanya memandangi gambar-gambarnya. Suatu hari katanya anak itu mau mendongengi saya, dan ternyata dia sudah mulai bisa mendongeng untuk orang lain walau mungkin ceritanya masih agak berbeda dengan yang ada dalam buku tersebut. Jadi menurut saya, tergantung lingkungan juga, jika dibiasakan besar atau bergaul di lingkungan yang suka dongeng kemungkinan anaknya suka juga jadi tinggi.

19.) Kalau dipikir-pikir teknik storytelling ini mirip dengan teknik presentasi yang semakin dikembangkan agar audiens tidak bosan dengan materi presentasi, ya?
Nah itu dia, kenapa kok zaman sekarang teknik presentasi itu dibikin mirip dengan teknik storytelling? Yaitu supaya pemirsanya nggak bosan menyimak materi dan nggak malah ngobrol sendiri. Seperti pas saya berkunjung ke sekolah-sekolah untuk membagikan buku. Itu gurunya selalu pakai teknik ceramah dan anak-anaknya duduk manis dan rapi di mejanya masing-masing. Sewaktu giliran saya membagi-bagikan buku, saya coba panggil nama mereka satu persatu tapi dengan suara yang dibeda-bedakan dan ternyata mereka jadi lebih tampak bersemangat. Mereka penasaran, “Kira-kira saya akan dipanggil dengan cara bagaimana ya?”

20.) Last but not least…Saat masyarakat umum mendengar kata storytelling biasanya mereka bakal mengaitkan kondisi tersebut pada situasi “membaca buku cerita sebelum tidur”. Nah, bagaimana menurut narasumber tentang anggapan tersebut, apakah benar atau salah?
Kalau saya sekarang berusaha mengembangkan persepsi bahwa storytelling itu bukan hanya cerita sebelum tidur. Karena jika kita sampai pada deskripsi orang tua modern, itu akan terbantahkan semuanya. Pasalnya, model orang tua zaman sekarang banyak pulang larut karena bekerja di mana anak mereka sudah tidur, atau malah tidak bertemu hingga esok hari. Tidak mungkin meninggalkan pekerjaan hanya untuk mendongeng kan? Malah bukan keharmonisan yang didapat, tapi malah masalah bermunculan dalam keluarga. Membaca situasi sekarang yang seperti itu, kita combine sehingga bapak-ibu bisa menyesuaikan dengan situasi dan kondisi mereka sehingga sesibuk apapun masih bisa menerapkan storytelling dalam interaksi kehidupan sehari-hari.

Ada lagi kondisi di mana orang tua lagi sibuk, daripada nangis anaknya disuguhin gadget karena perhatian anak cepat teralihkan pada peralatan semacam itu. Memang kelihatannya praktis, tapi bagaimana ke depannya? Nah, menurut saya sih lebih baik ribet di depan, tapi enak di belakang.

Istilahnya saya mengusahakan pondasi yang kokoh sejak dini, justru supaya untuk ke depannya lebih mudah. Anak-anak di masa kecilnya terutama untuk tahap 5 tahun pertama, itu kesempatan yang bagus bagi orang tua untuk membentuk karakter si anak. Pada tahap usia segitu, pikiran anak masih kosong jadi sekalian saja diisi dengan yang bagus-bagus, supaya bisa terserap lebih baik pesannya sehingga terbentuk optimisme dalam diri si anak.

21.) Terima kasih atas kesediaannya diwawancarai, Kak Nit Nit!
Oke, sama-sama…. terima kasih juga :D

        
                Foto Bersama Kak Nit Nit (kiri)
          (Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi)

Dari Kak Nit Nit, kita mengetahui bahwa Hypnotic Storytelling adalah sebuah cara mendongeng yang mengoptimalkan teknik paling dasar dan paling mudah dari mendongeng, yaitu keberadaan ekspresi untuk mempengaruhi alam bawah sadar audiens. Agar cerita menjadi lebih jelas dan menarik, dalam prakteknya Hypnotic Storytelling memerlukan beberapa alat bantu seperti ilustrasi/foto, buku cerita, boneka atau alat musik. Sumber cerita maupun alat bantu bisa dari yang sudah ada (eksisting) atau berasal dari literatur tertentu, namun juga bisa berkreasi sendiri sesuai kebutuhan karena metode ini memperhatikan penyajian yang sesuai dengan tahapan usia audiensnya. 

Menurut Kak Nit Nit, kegiatan mendongeng sangat dipengaruhi oleh lingkungan semasa kecil. Manfaat dari metode ini sendiri antara lain dapat diterapkan sebagai sarana interaksi dan komunikasi sehari-hari hingga mempererat hubungan interpersonal khususnya hubungan anak dan orang tua. Teknik Hypnotic Storytelling ini bisa dilakukan tidak hanya sebelum tidur, tetapi juga diterapkan dalam aktivitas sehari-hari dan dapat dilakukan tidak hanya oleh orang-orang tertentu saja, asalkan memahami dasar-dasar metodenya.

Demikian interview ini berakhir. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya! :D

More info about Hypnotic Storytelling :

Atau hubungi langsung Kak Nit Nit di alamat berikut :


No comments:

Post a Comment

Mohon gunakan bahasa yang sopan dan pantas saat hendak berkomentar:)